uni don


bulu babi itu bercahaya, berkecepatan 

cahaya

mereka masuk terowongan

tenggorokanku

di perut duri-durinya menembus sedikit,

seperti rambut baru dicukur

mereka akan meracuni jari-jarimu

karena tanganmu selalu

sembarangan menyentuh

suatu hari nanti

aku akan bicara 

di depan mikroskop

suaraku menggelegar dalam slow motion

suaraku akan jadi semacam Tuhan

dari dunia kaca petrimu

semua akan diteliti, diperiksa

semua akan dibuang tidak sembarangan 

tapi tanpa kasihan

lalu, adegan piknikmu 

di atas rumput hijau

akan selesai begitu saja

dan sampai saat terakhir pun kau 

tak akan pernah tahu

bagaimana rasanya jika semua 

yang kau anggap biasa

jadi tidak 

ada

*gambar diambil dari sini

(barang lama lupa tanggalnya)

rumahku tinggal alang-alang
kemarin kutumpahkan padamu semua ketakutanku. what if i died and nobody cared.
what if i spent all my life building a blank space that’d shrink to nothing because this world is such a crowded place.

tapi hari ini tidak ada apa-apa.

nyicil

saat kamu punya banyak luka sekaligus, kau bisa mencicilnya setiap hari. lalu, kamu rasakan satu satu. sedikit demi sedikit. sambil mengerjakan kewajiban. seperti membaca brief. atau naik angkot. atau mendengarkan lelucon teman lalu tertawa dengan tulus. menyapu. memasukkan pakaian bersih ke lemari. menabur meises ke roti suami.

kamu juga bisa menyelipkan luka itu di antara hal-hal yang kamu sukai, seperti sambil meletakkan kepala suamimu di antara kelekmu saat dia tidur. atau sambil makan bronis hangat a la mode. memperhatikan pohon tomat yang tumbuh tiba-tiba di halaman belakang. mempraktikkan berenang gaya bebas yang dipelajari di youtube karena semua bisa dipelajari di youtube walaupun mungkin tidak ada yang pernah memposting cara mengatasi rasa rasa seperti ini.

tapi kamu juga bisa memperlakukannya seperti gigi tanggal (melempar ke genteng), caranya: bikin rencana kabur ke negeri orang.

the ladies of tomorrow

selalu saja kamu ceria ceria
bicara soal emansipasi
sambil ngantongin duit sekepal lalu
sekepal lagi
lempar pujian,
senyum manis
hebat. pintar. siapa yang tidak mengidolakan.
dunia adalah fans!
inilah figur panutan kita,
para perempuan endonesia
terbungkuk bungkuk
memilih satu huruf: a. ibu b. bos
no! kalo kamu anaknya struggle,
kamu bisa a dan b sekaligus!
gimana kalo kamu bukan ibu
kamu cuma jongos?
kamu tuh siapa?
bread winner, so inspiring, so modern!
dipuja dan dimuliakan (wow this was my keyboard suggestion
even my keyboard knows how to praise
the ladies of tomorrow)
wajahnya nongol di artikel
ibu kota
kutipan-kutipannya berkobar ala feminis holiwut kebeyonce-beyoncean

dua puluh tahun lalu ibu bilang di sebuah wawancara dengan media: perempuan itu bebas memilih mau pake jilbab, lepas jilnab, mau kawin, mau lajang, mau karir, atau rumah tangga, tidak kurang keperempewiannya
she was the lady of tomorrow
sekarang dia bersandar pada sofa
kribo art Nouveau
pulas dan mangap sampai rahangnya
jadi tidak simetris
sementara rumahnya banjir
antre tukang genteng
karena selagi sempat tidak punya uang
selagi punya uang tidak pernah sempat

habis makan nasi kari katsu tadi malam aku mendapat sebuah pencerahan: kalau aku lahir jadi lelaki hidupku nggak akan ada bedanya sama sekarang aku akan memandang saos kari yang mengering di pinggir piring di hadapanmu kamu bisa jadi tetap lelaki atau perempewi sama saja yang membedakan kita cuma kelamin dan porsi hormon-hormon
we would still sit here childless membicarakan telor batara guru karena kamu lebih tau wayang dan lebih tau X-men sementara aku cuma tahu termenung-menung mencoba melupakan fakta bahwa teman yang kusuka pada awalnya akan membenciku pada akhirnya

bocor

di malam sembarang, jeda antara tetesan air AC terasa lebih suram dari biasanya. aku menggambar sebuah ember merah di kepala. usang — lembab — gelap — sepi. kini aku tahu kenapa orang bisa merasa kesepian di sebelah orang yang dia sayangi. rasa-rasa tertentu cuma bisa dirasa sendiri saja. dan kau tahu dia pun punya kesepian yang sama. dari caranya menghela napas atau melempar pandangan ke sesuatu antara dinding dan bayangannya di cermin. lalu menyadari itu bikin kamu makin lonely.

B 217 AN

Besok aku akan menikah dan malam ini aku menyandarkan kepalaku di punggungmu. Kamu kelihatan lincah mengemudikan motormu, keluar-masuk gang berliku. Semakin lama jalan yang kita lewati semakin asing. Tidak apa-apa, kupikir. Makin jauh makin bagus. Makin sempit jalannya makin banyak ruang untukku tenggelam di antaranya. Rumah-rumah petakan berderet tanpa ujung, diselingi warung serba ada, lapangan bulutangkis kecil tanpa jala dengan garis-garis pudar yang putus asa. Suara bocah mengaji mulai berkumandang dari masjid madrasah, sementara bocah-bocah lain kejar-kejaran dengan ibunya karena disuruh cepat-cepat pulang ke rumah. Di sisi kananku terbentang kali kecoklatan, kadang menyempit dan melebar, selembar bungkus makanan ringan menyempil di antara batuan, arusnya tidak cukup deras untuk membawanya pergi.

“Kita rada muter dikit ya soalnya kalo lewat jalan raya macet.” Nada bicaramu riang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Semalam aku mengirim pesan kalau aku akan menikah dua hari lagi. Lalu kamu tidak membalas sampai aku ketiduran. Paginya kamu hanya bilang mau mengajakku ke warung seafood di sebuah daerah di pinggir Jakarta. Rumahku juga di pinggir, tapi di sisi yang berlawanan. Jika tidak lewat tengah maka kita harus menyusuri jalan-jalan sempit memutari tepi kota. Kupikir akan jauh sekali tetapi aku mengiyakan saja. Lebih baik kita akhiri ini dengan baik tanpa ada perselisihan. Sore tadi kamu menjemputku di tempat biasa. Aku harus naik angkot sekali ke tempat itu, sebuah warnet yang sedang dalam perubahan jadi tempat jual pulsa dan hp second. Saat kau tiba kamu hanya menanyakan aku bawa jas hujan atau tidak, karena sepertinya bakal hujan besar. Aku bilang aku bawa ponco. Dari datang sampai saat ini hanya tiga kalimat itu yang keluar dari mulut kita.

Kedua tanganku melingkari pinggangmu semakin erat. Aku merasakan tulang punggungmu sedikit menegang, lalu kamu berpura-pura meluruskan punggung tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku menarik kepalaku dan memindahkan tanganku ke belakang. Seorang perempuan mengangkat jemuran dari pagar rumah sambil menggendong bayinya. Tanpa sengaja mata kami bertemu. Bayi itu menangis kencang setelah melihatku dan si ibu menatap ke arahku dengan heran dan curiga seolah-olah aku bukan orang yang punya perasaan. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Dalam sepersekian detik yang jengah itu aku berusaha tersenyum, tapi mungkin lebih terlihat seperti menyeringai. Lalu aku lemparkan pandanganku kembali ke depan. Dari sudut mata aku bisa melihat kepalanya mengikuti arah kita berjalan sampai ia tidak kelihatan lagi.

Empat puluh lima menit berlalu, dan seperti masuk lubang pinball, kita dimuntahkan di tempat yang benar-benar lain. Sebuah tanah lapang yang lebar terbentang di depan kita, jalan beraspal sudah tidak terlihat lagi, hanya tiang-tiang pancang raksasa yang berdiri tidak teratur, seperti pembangunan tol yang terbengkalai. Aku merasa seperti tersesat, tapi aku malas bertanya karena entah dari mana semua suara-suara kecil yang beberapa bulan terakhir ribut di dalam kepalaku makin lama makin redam. Di tengah keterasingan seperti ini rasanya aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Tidak ada aturan. Tidak ada kesalahan. Karena aku tidak lagi ingat siapa diriku.

Aku ingat terakhir kali aku merasa begini. Kamu juga ada bersamaku. Kita ada di sebuah kamar, menonton American Psycho. Kita baru bertemu hari itu, thanks to Tinder. Aku kalah taruhan dengan temanku, lalu karena aku tidak punya uang aku disuruh mengunduh aplikasi itu dan kencan dengan orang pertama yang kutemui di situ. Aku melihat fotomu dan kupikir kamu cukup normal. Kita bertemu di sebuah mini market dan setelah segelas kopi kamu mengajakku untuk pergi ke “kosan”mu. Sampai sekarang aku yakin itu bukan kosanmu. Mungkin temanmu sedang liburan dan kamu hanya meminjamnya untuk ewita-ewita dengan perempuan. Di tengah film itu kamu bilang, “bayangin kalo Patrick Bateman punya Tinder, hahaha!” Lalu aku tertawa juga, hahaha. “Patrick Bateman bisa jadi pahlawan babu-babu korporasi kayak gue.” “Iya juga, dia bisa jadi Batman… Tapi dia lebih cocok jadi Joker! Hahaha!” Kita tertawa-tawa, lalu kamu mulai menciumku, dan aku membayangkan kepalaku ditemukan di dalam lemari es esok pagi.

Hal yang terjadi di esok pagi tidak separah itu, walaupun agak di luar kebiasaan. Di sebelahku sudah ada perempuan lain. Wajahnya ada di depan mukaku dekat sekali, sudah berapa lama ia memperhatikan aku tidur aku tidak tahu. Ia tersenyum, lalu mengelus rambutku dan menciumku. Aku khawatir dengan mulutku yang bau iler, tapi ia tidak tampak keberatan. Mungkin karena mulutnya juga bau. Saat aku melakukannya dengan perempuan ini, kamu masih ada di samping kami, menatap lapar seperti menonton asian food channel. Perempuan itu pergi dan kamu melakukannya lagi denganku, meniru-niru gaya perempuan itu. Kupikir lain kali aku akan melakukannya dengan dua laki-laki.

Hari itu aku kembali ke kehidupanku sehari-hari dan merasa kembali terpenjara. Aku bekerja seperti biasa tapi tiba-tiba semua terasa sangat sempit dan mencekik. Padahal kantorku open office. Saat itulah aku berpikir untuk menghubungimu lagi.

Gusrak! Motor kita nyusruk ke dalam lubang lumpur. Aku turun untuk membantumu mengangkat motor. Tidak ada orang lain di situ jadi kita harus membereskan semuanya berdua. Untung lubangnya tidak terlalu dalam dan motormu tidak terlalu besar.  “Lo gak apa-apa?” tanyamu. Aku menggeleng. Tak lama kita mulai jalan lagi, melewati rumah raksasa gaya telenovela yang masih berdiri teguh dan membusuk di bersama pancang-pancang itu.

Kadang aku membayangkan kamu akan membusuk di jalanan. Setahuku kamu tidak pernah lulus kuliah. Hidupmu seperti seorang bocah gelandangan. Aku tidak pernah tahu pekerjaanmu apa. Tapi kamu seperti memilih untuk melakukannya, bukan terpaksa. Kadang ketika memikirkan itu aku jadi kesal. Orang seperti aku ini harus mati-matian belajar supaya bisa terus masuk sekolah dan universitas unggulan dengan harapan bisa dapat pekerjaan yang layak untuk punya kehidupan lebih baik. Sayangnya buku pedoman hidup gaya kelas menengah itu tidak pernah menyebutkan bagaimana cara merasa puas.

Kita pernah bertengkar soal ini suatu kali di warung mi rebus. Saat kamu kesal kamu tidak akan melotot atau teriak-teriak, melainkan sarkastis dan tertawa kencang. “Orang kuliah kan buat belajar gimana caranya jadi jongos yang baik di sebuah perusahaan multinasional yang wah. Hahaha. Mending mungutin tai kali Ciliwung dibanding nyebokin tai orang-orang bule. Lo pikir pantat mereka berlapis emas? Lalu ngarep ada emas nempel juga di dalam tai-tainya?” Mi rebus kornet keju di depanku langsung berubah seperti gumpalan tai. Aku memang bukan sebagian orang yang punya orang tua yang kasih tabungan ke anak cucunya supaya bisa milih tai mana yang bisa kubereskan. “Buat gue, menggelandang itu privelege, harus punya uang baru bisa. Gue cuman sanggup jadi pegawai mediocre,” kataku. Kamu terdiam sebentar lalu ketawa lagi keras-keras. Kamu bilang semua orang memikul rasa bersalahnya masing-masing. Aku memandang pundakmu yang bersiku-siku, bagaimana cara memikulnya jika pundak itu begitu rapuh? Aku bilang bahwa aku selalu merasa apa yang kudapat sejak kecil adalah curian. Tapi aku tidak berdaya untuk mengembalikannya. Dan orang-orang di sekitarku sekarang mencuri lebih banyak lagi dariku, ekspat-ekspat sialan itu. Lalu kita terdiam lama sekali.

Di pertemuan berikutnya kamu menceritakan hidupmu. Mereka pemilik kebun kelapa sawit di Sumatera. Kamu disekolahkan di Jakarta. Lalu karena terbiasa hidup enak kamu jadi mau enaknya sendiri saja, cabut kuliah, nongkrong di kantin kampus, mabuk sampai malam, mampir ke panti pijat, dan cari teman perempuan. Tahun berlalu dan kehidupanmu makin jauh dari kampus, makin dekat ke jalanan. Kamu muak dengan teman-temanmu yang penuh teori, tapi lulus dan bekerja untuk berpikir mereka sedang memperkaya diri sendiri, sementara pada kenyataannya mereka sedang memiskinkan orang lain dan dirinya sendiri. Kamu berteman dengan buruh, pemilik kosan, dan penjaga warung di sekitar pabrik yang kebetulan berada di dekat kampus. Kamu bahkan jadi tukang parkir kalau uang bulananmu habis karena kalah taruhan capsa dengan supir-supir ojek. Suatu hari kamu ribut dengan tukang-tukang parkir yang merasa kamu curi lahannya. Kamu dihabisi di belakang gudang pabrik susu sampai hampir mati. Tapi yang lebih menyakitkan adalah teriakan mereka bahwa kamu pencuri, sama seperti ibu dan bapakmu dan nenek moyangmu sebelumnya. Teriakan asal yang sialnya adalah kenyataan. Seorang buruh perempuan menolongmu, kamu jadi dekat dan mungkin jatuh cinta padanya (di bagian ini kamu tidak cerita dengan detil). Kamu berbagi pandangan hidupmu dengannya. Tapi dia bilang bahwa dia tidak dapat sepenuhnya mengerti kamu, seperti kamu tidak dapat sepenuhnya mengerti dia. Lalu dia menghilang tanpa pernah menghubungimu lagi.

Aku merasakan tetesan air di lenganku. Hujan mulai deras. Kamu mempercepat laju motormu meninggalkan lapangan itu memasuki jalanan yang lebih lebar. Arus lalu lintas langsung padat baru sebentar hujan. Aku merasakan air comberan yang dingin memercik mata kakiku.

Kita meminggirkan motor di sebelah warung rokok untuk memakai jas hujan. Kamu menawarkan punyamu yang lebih tertutup. Aku menolak, “sesek gue pake yang kayak gitu.” Kamu tertawa, “banyak banget yang bikin lo sesek.” Aku membeli rokok di warung itu, lalu kamu usul, lebih baik merokok sebatang dulu di situ sambil berteduh sebentar, “pegel pantat gue.”

Warung itu diterangi satu batang neon panjang. Wajahmu terpantul di kaca spion saat memarkir motor. Sebuah wajah yang asing, seperti lelah dan kecewa. Kamu tidak pernah menunjukkan wajah itu di depanku. Raut mukamu selalu sumringah dan sekedarnya, bahkan saat kamu menceritakan kisah-kisah naasmu.

Aku duduk di ujung bangku bernaungkan terpal seadanya. Saat itu teleponku berbunyi. Dari calon suamiku. Aku buru-buru mengangkat, supaya kamu tidak perlu melihat fotonya yang terpampang besar-besar di layar, atau pun nama panggilannya dariku. Kamu mendekat ke bangku untuk duduk. Aku berdiri dan jalan menjauh. Aku tidak ingin kamu mendengarku bicara.

Air hujan menetes mengalir turun melalui pelipismu ke pipimu, seperti air mata. Perutmu berbunyi karena lapar, kamu nyengir lalu ketawa. “Sebentar lagi sampe kok.” Bapak warung menanyakan mau ke mana kita berdua. Kamu menjawab, “warung seafood yang di pinggir rel kereta, Pak.” “Oooh. Saya kira tempat itu udah tutup. Hati-hati lewat sana ujan badai begini.”

Setelah satu rokok kita berangkat lagi. Jalan raya saat hujan begini adalah medan pertarungan yang berat untuk para pengendara motor. Semua ingin lekas sampai rumah, berteduh dan berselimutkan pasangan masing-masing. Celanaku basah kuyup. Ada yang berbunyi dari dalam perutku, tapi kurasa itu bukan lapar. “Keujanan pas naik motor itu rasa paling nelongso sedunia,” kataku. Kamu langsung menjawab tanpa jeda, “Hahaha. Berarti nelongso gue dobel.”

Warung seafood itu tidak berada persis di pinggir rel kereta, melainkan di mulut sebuah terowongan dekat rel, dengan lampu yang mulai redup karena sudah waktunya untuk diganti. Terowongan itu sendiri adalah diskotik bawah tanah yang sesungguhnya, dengan bola disko dan patahan-patahan semen jadi bangku dan meja. Berderet sejajar rel sebelum terowongan adalah bilik-bilik yang terbuat dari triplek. Pintunya berhiaskan lampu pohon natal yang warna-warni. Kamu menggandengku melewati diskotik itu, mata gadis-gadis mengikuti kita, mereka berlipstik ungu tua dan bercelana pendek gemes. Kamu bilang ini rel kereta buntu yang dulunya dipakai untuk parkir gerbong-gerbong rusak. Bilik-bilik prostitusi yang dulu ada di jalur kereta utama pindah ke sini semua. Tapi warung ini awet tidak terganggu. Aku berpikir sebelum disko memang enak makan udang dulu.

Warung itu cukup sibuk, pegawainya banyak, dengan wajan penggorengan dan area pembakaran yang besar-besar. Warung itu bahkan punya seorang perempuan transgender berbadan gempal yang menyanyi, Like a Virgin. Ia mengerling padamu, kamu membalasnya dengan anggukan. Kita duduk di salah satu meja yang kosong, basah kuyup dengan perasaan tidak keruan. Setelah memesan satu ekor ikan baronang bakar, cumi goreng tepung dan kerang dara, ia bertanya enteng, “jadi ketemu bule di mana lo, Tinder?” Wajahnya penuh cengiran, tapi aku merasa lebih seperti tamparan. Aku mengangguk sambil menyalakan rokok, lalu mengambil handphoneku untuk menunjukkan fotonya. “Lo udah ngecek dia bukan Patrick Bateman?” Kamu ketawa. “Nggak lucu,” jawabku. Kayak dangdut picisan lo ah, aku membayangkan sumpah serapahmu berikutnya dari tatapan kosongmu itu. Tapi semua cuma ada dalam kepalaku. Aku hanya memproyeksikan ketololanku sendiri dalam kekosongan matamu. AH, terserah kamu mau mikir apa! Aku ingin mengakhiri ini tanpa perselisihan.

“Kenapa lo jadi gini sih?” Ternyata aku yang kesal sendiri. Untung saat itu makanan kita datang, kalau tidak aku keterusan ngomong panjang. Kita jadi sibuk dengan piring kita masing-masing.

“Lo sering ke sini?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang. Kamu berpikir sebentar, lalu bilang sedikit ragu-ragu, pernah, tapi kali ini suasananya sedikit lain. Dulu tidak ada si Montok. Kamu menunjuk biduan transgender berbadan gempal itu. “Tapi kamu kenal?” tanyaku. Kamu mengangkat bahu, lalu melanjutkan makan. Tak lama Montok berhenti menyanyi dan menghampiri kita. “Lama nggak ketemu,” katanya padamu. “Tapi aku baru pertama kali ngeliat si Dora ini.” Dia menunjuk padaku. Lalu ia memperkenalkan dirinya sebagai si Montok pemilik warung seafood yang dinamai sesuai namanya. Di sebuah masa, ia sering lewat tempat ini, tapi tidak pernah makan karena tidak punya uang. Ia hanya lewat, lalu diam-diam berhenti karena terpesona dengan musik yang dimainkan di situ. Suatu hari, ia tak sengaja bertemu mata dengan pemilik warung itu, sementara Madonna mulai berdendang,
“I made it through the wilderness

Somehow I made it through

Didn’t know how lost I was

Until I found you



I was beat incomplete

I’d been had, I was sad and blue

But you made me feel

Yeah, you made me feel

Shiny and new”

Namanya Laksono. Laksono begitu tampan, wajahnya dibingkai sebuah kesedihan mendalam yang bergerak seirama dengan lagu-lagu yang ia selalu mainkan. Musik itu adalah dirinya, dirinya adalah bagaimana musik itu Montok nikmati sepenuhnya. Di situlah ia jatuh cinta dengan Laksono. Lama-kelamaan Laksono tahu Montok suka dengan musiknya. Ia mengajaknya masuk dan duduk di warung itu dengan cuma-cuma. Mereka sering mengobrol semalaman. Laksono mencurahkan semua kisah hidupnya pada Montok, Montok mencurahkan semua kisah hidupnya pada Laksono, kecuali perasaannya. Laksono memperkenalkan Montok pada para pekerja seks dari warung remang di sebelah warung seafoodnya. Katanya, kamu boleh pakai-pakai, dia punya stok perempuan dan laki-laki terserah maunya yang mana. Kalau dia sendiri sudah bosan katanya. Tapi Montok menolak. Suatu hari pemutar kaset Laksono rusak, Montok dilanda ketakutan tak akan punya alasan untuk ngobrol dengan Laksono lagi. Akhirnya, Montok balik menawarkan jasa, bagaimana kalau ia dipekerjakan untuk menyanyi di situ. Dia mau belajar menyanyi Like a Virgin dan menyanyikannya tiap malam, demi Laksono. Selain lagu itu Montok cuma bisa dangdut melayu, jadi lagu itu selalu dijadikan lagu terakhir dari penampilannya, atau dinyanyikan khusus sebagai bonus jika ada pelanggan yang minta.

“Terus Laksononya ke mana mbak?” tanyaku. Montok cuma menjawab, “maut yang memisahkan kita.”

Hujan reda setelah ngobrol dengan Montok. Kamu mengajakku mampir ke diskotik, “mau nggak ngerasain underground party sesungguhnya?” Kita minum segelas bir di situ, lalu jalan-jalan memandangi lampu warna-warni yang kelap-kelip di sekitar bilik-bilik prostitusi. “Gue mau nganterin lo pulang, tapi tunggu birnya turun dulu ya?” Kamu menggandengku lagi. Lalu kita duduk sambil merokok di trotoar. “Gue pikir kita sama-sama pencuri, dan sama-sama dicuri. Ternyata lo cuman nunggu mangsa yang lebih gede.” Air mataku tumpah di atas aspal yang sudah basah. Suara sirene, mesin-mesin, dan klakson kendaraan terdengar sayup-sayup menyatu dengan tangisanku. Di pinggir rel ini aku merasa begitu hidup, namun begitu jauh dari kehidupan. Aku tak akan bisa lari dari kengehekanku sendiri. “Gue paling suka gue yang sama lo,” kataku. “Gue juga,” lalu kamu menepuk pundakku, mengajakku pulang. Kita kembali berboncengan motormu menuju jalan besar. Perlahan bagian diriku yang paling kusukai akan hilang di antara gang-gang kota yang carut marut, warung rokok pinggir jalan, warung seafood si Montok. Pelan dan tak kau sadari, seperti kemacetan yang perlahan terurai. Tapi ternyata, aku kehilangan lebih dari itu. Kita melaju pelan melewati sebuah reklame iklan raksasa yang roboh di tengah jalan karena hujan badai. Di bawahnya dua jasad terhimpit tak berdaya. Aku melihat mata kaki yang penuh cipratan comberan, dan sebuah bahu bersiku-siku yang patah. Siluet si Montok muncul di depan kita, dibingkai sinar neon dan kerlip lampu disko terowongan, mengerling manja mengundang kita kembali ke warungnya.

happy new year

Ruangan yang penuh sesak tidak bicara apa-apa padaku. Kabel-kabel serabutan di sekitar speaker tidak akan membawamu ke mana-mana. Lantai dansa itu tetap diam, walaupun musik yang diputar adalah musik yang bisa membuatmu merasa groovy, in-style, up there. Orang ke mari untuk makan makanan chef yang mungkin pemenang master chef. Mereka menyampirkan tas kulit imitasi di bahu dan menjepit ujung talinya dengan jepit rambut untuk mengangkat rambut mereka ketika sudah terlalu banyak wefie-wefie. Luruskan tulang punggung dan putar kepala ke arah angle terbaikmu. Senyummu kayak kurang necyural gicu. But that’s your best angle, you’ve learned from thousands you’ve taken so far. Tapi kau tidak akan mengangkat pantatmu dari kursi, kecuali untuk ke WC. Kalian begitu offbeat disinari lilin pengusir lalat. Dan dalam kemabukan omong kosong itu, sebuah kapal cruise melaju menuju Long Island. Semua orang bergoyang di bawah nyala ribuan kembang api, dan kau angkat gelas tinggi-tinggi di udara, percikan champagnenya membentuk kembang api milikmu sendiri, menyobek angkasa, sementara frame demi frame momen pencapaianmu di tahun kemarin membentuk montage yang grande di kepala, lalu nyemplung (in-tune dengan dentuman EDM yang diputar seseorang, musik yang ternyata membuatmu merasa groovy, in-style, dan up there) satu demi satu dalam The Bucket List of Your Precious Life: This is me. This is what defines me. This is what it feels to be Alive. This is the now generation. This is the center of everything. This is some soda and some booze. This is my still chair. This is nowhere. This is nothing.

air garam

ia memercikkan air garam
tapi ia tidak pernah melihat mereka
aku pernah
dalam mimpi
salah satunya membal kiri kanan
seperti paddlepop jelly
boing boing mengetuk 
ujung tempat tidur yang kosong
nih kuguyur air garam pada kalian 
hai orang orang gengges
turun tangga ia membawa air bening dalam botol aqua
aku mundur dua langkah
butir butir kayu dimakan rayap menggerus
kakiku yang sejujurnya suka pesawat terbang
menghirup dalam-dalam perasaan rela meninggalkan saat berada di bandara
do they miss me
percakapan sambil lalu hey apa kabar sih kangenn deh tanpa tatap mata tanpa obrolan yang terlalu bikin patah hati
mataku lebih suka bicara sama tanaman tanamanku yang belum terlalu subur
i feel a tender love to you dear mama
the world is so small when i am with you
and all we have to do is sitting on a porch 
dengan segelas max tea tarik
menatap toa masjid yang berkumandang
wasweswos wasweswos

kuburan

kuncup daun sri rejeki tumbuh di atas kuburan papayik. mamayik mencabuti daun-daun yang penuh kepompong. aku membayangkan tubuhnya yang membusuk di balik kafan jadi makanan lezat akar akar tumbuhan. jadi begitu caramu mengakhiri kehidupan dan memulainya dengan yang baru. menempel di mana-mana, menjadi semua benda.

tiba-tiba aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat penting. aku mencarinya di pohon tanjung, bercak-bercak yang menempel di kaca mobil setelah gerimis, usus kadal, cangkang keong di warung belakang tembok sekolah, dinding yang menghadap kolam renang rumahmu, mungkin ada di situ, becek yang kamu seka dengan kesal karena bikin kaos kaki kotor di pelajaran pertama, debu di antara keyboard laptop toshiba satellite, serpihan kulit mati di ujung sapu lidi.

kini ada selokan besar membelah sudirman. di minggu malem sering kuberharap bisa sembunyi situ sampai minggu depan.

jalur kuningan bag. 20 juta

Kalau nunggu busway, kau harus berdiri depan pintu haltenya. Jangan duduk di bangku, nanti kamu ketinggalan giliran. Saat bisnya datang, mau itu rongsok penuh lubang dan sarden kalengan, jangan kelamaan mikir, jangan nunggu yang keluar dulu. Apalagi kalau kamu agak di belakang. Dorong saja, dorong dengan kekuatan sedang, tapi pasti. Langsung ambil langkah panjang. Kau bukan orang inggris yang ngerti caranya antre. Begitu masuk, nggak perlu pegangan, jangan nyender di pintu. Everything is falling apart. Tapi selama lo masuk, kalopun lo nggak nyampe, lo hancur barengan.